Minggu, 16 Februari 2014

Sekilas Tentang Logo ITB


Apa saat di dirikan THS (Technische Hogeschool Bandoeng) sekarang ITB itu, suadah pakai logo Ganesa ? Ternyata logo aslinya dua obor, jangka dan segitig. Freemason?

Sedikit tentang sejarah ITB. Sejarah ITB bermula sejak awal abad kedua puluh, atas prakarsa masyarakat penguasa waktu itu. Gagasan mula pendirianya terutama dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga teknik yang menjadi sulit karena terganggunya hubungan antara negeri Belanda dan wilayah jajahannya di kawasan Nusantara, sebagai akibat pecahnya Perang Dunia Pertama. Cikal bakal ITB di Bandoeng berdiri tanggal 3 Juli 1920 dengan nama Technische Hoogeschool te Bandoeng (sering disingkat menjadi TH te Bandoeng, TH Bandung, atau THS) dengan satu fakultas de Faculteit van Technische Wetenschap yang hanya mempunyai satu jurusan de afdeeling der Weg- en Waterbouwkunde. ITB juga merupakan tempat di mana presiden Indonesia pertama, Soekarno meraih gelar insinyurnya dalam bidang Teknik Sipil. Pada masa penjajahan Jepang ditutup, kemudian tepatnya tanggal 1 April 1944, THS dibuka kembali oleh Pemerintah Militer Jepang dengan nama バンドン工業大学 (Bandung Kōgyō Daigaku?) Sejarahnya memang ditutup sejak 8 Maret 1942 dengan menyerahnya Hindia Belanda di Kalijati. Kemudian pada masa kemerdekaan Indonesia, tahun 1945, namanya diubah menjadi "Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung". Pada tahun 1946, STT Bandung dipindahkan ke Yogyakarta dan menjadi cikal bakal lahirnya Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Pada tanggal 21 Juni 1946, NICA mendirikan Universiteit van Indonesie dengan Faculteit van Technische Wetenschap sebagai pengganti STT Bandung di lokasi Kampus THS dulu. Sebagian besar pengajarnya adalah para mantan pengajar THS yang baru saja dibebaskan dari kamp interniran Jepang. Dan pada 6 Oktober 1947, Faculteit van Exacte Wetenschap berdiri. Ini kemudian menjadi Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam Universitas Indonesia sejak 2 Februari 1950. Kemudian pada tanggal 2 Maret 1959, Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam secara resmi memisahkan diri menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB).(Sumber Wikipedia).

Kembali ke masalah logo. Logo THS Bandung dibuat dalam semangat freemason. Perhatikan jangka dan siku dan bandingkan dg logo freemason. Tdk mengherankan, karena ketua dewan kurator THS Bandung yg pertama, Carpentier Alting, pada saat bersamaan juga pimpinan fremason di hindia belanda. Boleh jadi, lebih jauh lagi, beberapa tokoh freemason memang bagian dr pendirian THS Bandung. Ganeca adalah nama dan logo majalah kampus THS Bandung. Setelah merdeka, nama majalah itu menginspirasi para tokoh yg lulusan THS Bandung untuk dipakai sbg logo baru. 

Freemason yg di abad XIX bermarkas di kawasan lapangan banteng (di kantor kimia farma sekarang--jalan Budi Utomo dahulu bernama jalan Vrijmetselarij/ Freemason) memang terkenal memajukan sekolah-sekolah, termasuk sekolah pertukangan. Tidak heran kalau mereka juga ikut terlibat dalam pembangunan sekolah tinggi teknik, THS Bandoeng.

Sumber :  https://www.facebook.com/photo.php?fbid=659029017488741&set=a.105334139524901.4942.100001449471900&type=1&comment_id=1992868&offset=0&total_comments=15&ref=notif&notif_t=photo_reply
 

Sabtu, 31 Maret 2012

10 Rahasia 17 Agustus yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

1. Soekarno Sakit Saat Proklamirkan Kemerdekaan
 
Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00 (2 jam sblm pembacaan teks Proklamasi), ternyata Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Saat itu, tepat di tengah2 bulan puasa Ramadhan.

“Pating greges”, keluh Bung Karno setelah dibangunkan dr Soeharto, dokter kesayangannya. Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi. Pukul 09.00, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta.

Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah. “Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!”, ujar Bung Karno di hadapan segelintir patriot-patriot sejati. Mereka lalu menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih. Setelah upacara yang singkat itu, Bung Karno kembali ke kamar tidurnya; masih meriang. Tapi sebuah revolusi telah dimulai.
 
2. Upacara Proklamasi Kemerdekaan Dibuat Sangat Sederhana

Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor, dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang dinanti-nanti selama lebih dari 300 tahun!
 
‎3. Bendera dari Seprai

Bendera Pusaka Sang Merah Putih adalah bendera resmi pertama bagi RI. Tetapi dari apakah bendera sakral itu dibuat? Warna putihnya dari kain sprei tempat tidur dan warna merahnya dari kain tukang soto!
 
4. Akbar Tanjung Jadi Menteri Pertama “Orang Indonesia Asli”

Setelah merdeka 43 tahun, Indonesia baru memiliki seorang menteri pertama yang benar-benar “orang Indonesia asli”. Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu. “Orang Indonesia asli” pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan (1988-1993).
 
5. Kalimantan Dipimpin 3 Kepala Negara

Menurut Proklamasi 17 Agustus 1945, Kalimantan adalah bagian integral wilayah hukum Indonesia. Kenyataannya, pulau tersebut paling unik di dunia. Di pulau tersebut, ada 3 kepala negara yang memerintah! Presiden Soeharto (memerintah 4 wilayah provinsi), PM Mahathir Mohamad (Sabah dan Serawak) serta Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei).
 
6. Setting Revolusi di Indonesia Diangkat Ke Film

Ada lagi hubungan erat antara 17 Agustus dan Hollywood. Judul pidato 17 Agustus 1964, “Tahun Vivere Perilocoso” (Tahun yang Penuh Bahaya), telah dijadikan judul sebuah film – dalam bahasa Inggris; “The Year of Living Dangerously”. Film tersebut menceritakan pegalaman seorang wartawan Australia yg ditugaskan di Indonesia pada 1960-an, pada detik2 menjelang peristiwa berdarah th 1965. Pada 1984, film yang dibintangi Mel Gibson itu mendapat Oscar untuk kategori film asing!
 
7. Naskah Asli Proklamasi Ditemukan di Tempat Sampah

Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan BM Diah. Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik.Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.
   
8. Soekarno Memandikan Penumpang Pesawat dengan Air Seni

Rasa-rasanya di dunia ini, hanya the founding fathers Indonesia yang pernah mandi air seni. Saat pulang dari Dalat (Cipanasnya Saigon), Vietnam, 13 Agustus 1945, Soekarno bersama Bung Hatta, dr Radjiman Wedyodiningrat dan dr Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) menumpang pesawat fighter bomber bermotor ganda. Dalam perjalanan, Soekarno ingin sekali buang air kecil, tetapi tak ada tempat. Setelah dipikir, dicari jalan keluarnya untuk hasrat yang tak tertahan itu. Melihat lubang-lubang kecil di dinding pesawat, di situlah Bung Karno melepaskan hajat kecilnya. Karena angin begitu kencang sekali, bersemburlah air seni itu dan membasahi semua penumpang.
 
9. Negatif Film Foto Kemerdekaan Disimpan Di Bawah Pohon

Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang?
 
10. Bung Hatta Berbohong Demi Proklamasi

Kali ini, Bung Hatta yang berbohong demi proklamasi. Waktu masa revolusi, Bung Karno memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India pun dilakukan secara rahasia. Bung Hatta memakai paspor dengan nama “Abdullah, co-pilot”. Lalu beliau berangkat dengan pesawat yang dikemudikan Biju Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi menteri pada kabinet PM Morarji Desai. Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak bertemu Mahatma Gandhi.

Nehru adalah kawan lama Hatta sejak 1920-an dan Dandhi mengetahui perjuangan Hatta. Setelah pertemuan, Gandhi diberi tahu oleh Nehru bahwa “Abdullah” itu adalah Mohammad hatta. Apa reaksi Gandhi? Dia marah besar kepada Nehru, karena tidak diberi tahu yang sebenarnya.”You are a liar !” ujar tokoh kharismatik itu kepada Nehru
  
Sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=423409004351223&set=a.309270145765110.95336.264134723611986&type=3

Kamis, 24 November 2011

Asal Mula Istilah "ODOL"


Banyak yang tidak tahu, kenapa pasta gigi itu disebut juga "ODOL". Kadang kita menyebutnya odol Pepsodent, Odol Colgate, dll. Tahukah anda, bahwa "ODOL" sebenarnya adalah nama produk pasta gigi?

Kata Odol berasal dari merk pasta gigi bernama ’Odol’ yang amat tersohor di zaman dahulu, termasuk di tanah air kita yang kala itu masih di bawah penjajahan Belanda. Pasta gigi dengan wadah berwarna biru muda mampu menggeser pemakaian tumbukan batu-bata dan bubuk buah pinang (areca nut) yang kala itu masih banyak digunakan penduduk kita untuk menggosok gigi. Namun seperti layaknya dengan istilah-istilah bahasa Belanda lainnya, masyarakat kesulitan untuk mengucapkan kata tandpasta (tand = gigi) ini. Alhasil, diambillah jalan termudah dengan menyebut nama merknya, yaitu ’odol’

Odol pertama kali diproduksi di Jerman oleh Dresden chemical laboratory Lingner, yang sekarang dikenal sebagai Lingner Werke AG pada tahun 1892 sebagai cairan pencuci mulut/mouthwash. Odol moutwash pada tahun 1900 an adalah merk ternama dan yang paling luas penggunaannya di hampir seluruh daratan Eropa.
Karl August Lingner adalah orang yang menciptakan Odol moutwash dan dia adalah orang yang giat mengampanyekan Hidup Higienis. Dia juga dikenal sebagai orang pertama yang mengadakan International Hygiene Exhibition pada tahun 1911. Dia mendirikan museum The German Hygyene Museum di Dresden. Ternyata ODOL bukan yang pertama sebagai merk yang memproduksi massal,Pasta Gigi pertama yang diproduksi masal hampir 90 tahun sebelum Merk ODOL lahir.

(dari berbagai sumber)

“Soerabaja Sue”

Ada yang pernah dengar nama itu? Atau nama lainnya "KETUT TANTRI". Saya sendiri baru mendapatkan informasi tentang Soerabaja Sue ini dari sahabat saya di Facebook, Pak Budi Schwarzkrone. Terus terang, sebelumnya saya tidak pernah mengetahui siapa sebenarnya Soerabaja Sue alias Ketut Tantri ini. Sehubungan dengan hari Pahlawan, berikut cerita ringkas tentang Soerabaja Sue alias Ketut Tantri, berdasarkan cerita dari Pak Budi Schwarzkrone.

Pada pukul 06.00 pagi tanggal 10 November 1945 tentara Inggris mulai menggempur kota Surabaya dari kapal perang, pesawat udara.

Terjadilah pertempuran yang sangat tidak seimbang, tentara Inggris yang bersenjata lengkap dilawan dengan persenjataan seadanya hasil rampasan dari tentara Jepang, malah ada yang nekat melakukan perlawanan hanya dengan bersenjatakan bambu runcing atau ketapel yang sudah disuwuk kiai atau sudah dimintakan berkah di makam Waliyullah Sunan Ampel, mereka maju terus pantang mundur, semboyan yang paling populer saat itu disamping Merdeka atau Mati ! adalah rawe-rawe lantas malang-malang putung !.

Kenekatan perlawanan arek-arek Suroboyo dengan semangat rawe-rawe lantas malang-malang putung itu bukan hanya tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia tapi juga dalam sejarah militer Internasional. Pihak sekutu berdasarkan laporan intelejen mereka, mencatat dan menganalisa apa mengobarkan semangat arek2 Suroboyo itu.

Ada empat tokoh yang dianggap berperan : Cak Dirman (Sudirman Residen Surabaya), Cak Roes (Roeslan Abdulgani), Cak Dul (Dul Arnowo) dan Bung Tomo. Diantara ke empatnya Bung Tomo lah yang mendapat catatan khusus. Dia dicatat sebagai salah satu dari dua orang besar Indonesia yang mampu mengobarkan semangat perlawanan melalui pidato-pidato perjuangan, yakni Bung Karno dan Bung Tomo. Ciri khas Bung Tomo, ia selalu meneriakkan kalimat Allahu Akbar dalam pidatonya, teriakkan Allahu Akbar yang dikumandangkan oleh seorang yang berjiwa patriot dan memiliki kekuatan iman seorang Muslim. Pidato Bung Tomo dengan gaya dan teriakkan khasnya itulah yang dianggap pihak Sekutu telah mengobarkan semangat rawe-rawe lantas malang-malang putung. Kalimat itu pula yang diteriakkan para pejuang dalam medan pertempuran.

Kalau Bung Tomo dianggap tokoh yang mengobarkan semangat kita, Sekutu mencatat tokoh lain yang dianggap sebagai perusak moral pasukannya, yakni tokoh perempuan misterius yang dikenal dengan sebutan “Soerabaja Sue” (baca Surabaya sue – artinya Surabaya menggugat). Melalui sebuah pemancar radio gelap yang dioperasikan oleh Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) pimpinan Bung Tomo, Soerabaja Sue seorang perempuan yang fasih ngomong Inggris dengan aksen Amerika, melakukan propaganda, menjelaskan bahwa para pejuang tidak memusuhi pihak sekutu, ia meminta agar pihak sekutu menghargai kedaulatan bangsa Indonesia, secara lihai ia mengacaukan psikologi nurani tentara sekutu, yang ia puji sebagai pengusir penjajahan Jepang tapi diperalatan para politisi untuk menanamkan penjahahan lainnya. psywar yang dilakukan Soerabaja Sue sangat menurunkan moral tentara Inggris. Terutama tentara yang berasal dari India dan Pakistan yang beragama Islam, hampir separuhnya melakukan desertasi menyeberang kepihak pejuang. Pihak Inggris menyediakan hadiah bagi siapa yang mau memberi info identitas Soerabaja Sue.

Siapakah Soerabaja Sue? dikalangan Pejuang dan Pemimpin Indonesia saat itu mengenalnya sebagai K’tut Tantri, seorang perempuan berdarah Scotlandia, kemudian hijrah ke Amerika, disana, pada pertengahan tahun 30’an, di Hollywood Boulevard ia nonton sebuah film yang berjudul “Bali the last Paradise” (Bali surga terahir). Keluar dari bioskop, perempuan itu seperti menemukan kehidupan, ia memutuskan untuk pergi dan tinggal di Bali. Beberapa bulan kemudian ia tiba di Surga Terahir impiannya. Ia berhenti di Istana Raja Bali yang ia kira sebuah Pura. Hati-hati ia masuki istana itu. Perempuan itu akhirnya disambut oleh sang raja dan seperti sebuah dongeng, ia diangkat menjadi anaknya yang keempat. Ia dinamai K’tut Tantri.

Ketika Jepang mendarat di Bali, ia berhasil meloloskan diri ke Surabaya. Di sana, ia mulai menjalin kontak dengan sejumlah orang yang bersimpati pada gerakan anti-Jepang. Ketika akhirnya ia tertangkap, interogasi berbulan-bulan lamanya mesti ia hadapi. Ia ditanyai soal aktivitas bawah tanahnya. Berkali-kali ia disiksa. Ia bahkan nyaris dieksekusi. Sekali waktu ia terkapar nyaris mati. Tapi ia tetap bungkam. Karena kesehatannya yang anjlok ke titik ternadir, ia pun dikirim ke rumahsakit. Di sanalah ia mendengar diproklamasikannya kemerdekaan. Ketika tentara Inggris mendarat, K’tut dengan memakai nama samaran Soerabaja Sue melakukan siaran propaganda yang bikin moral tentara Inggris anjlok. K’tut mengabadikan kisah hidupnya dalam buku yang ia tulis sendiri yang ia beri judul Revolt in Paradise di Indonesia buku itu beredar dengan judul Revolusi di Nusa Damai. Ia juga menulis beberapa buku lainnya. Hingga ia meninggal di Bali pada tanggal 27 Juli 1997, tidak pernah ada yang tahu siapa nama aselinya.